Wajah Jakarta merupakan cermin dari wajah Indonesia. Pembangunan Jakarta yang sembrawut, juga mencerminkan pembangunan Indonesia yang sembrawut. Ketertinggalan Jakarta juga merupakan ketertinggalan Indonesia..

 

Bila 15 tahun yang lalu, Jakarta dan Shanghai (China) masih boleh disejajarkan dalam hal pembangunan, namun sekarang Jakarta sudah jauh ketinggalan dan tidak mampu  dibandingkan dengan Shanghai.Kota yang layak dibandingkan dengan Jakarta saat ini mungkin Guangzhou (China).

 

Dapat disimpulkan bahwa selama 15 tahun belakang ini, Indonesia hanya dipimpin oleh orang-orang oportunis yang korup dan tidak becus, ya kita sebut saja “daki”. Dan keberadaan daki ini hampir merata di segala bidang dan segala tingkatan. Kita sudah tidak heran lagi mendengar istilah “korupsi berjemaah” dan “korupsi sudah budaya” karena kenyataannya memang begitu!

 

Untuk membuang daki ini memang tidak mudah karena dakinya telah menyatu dengan tubuh. Salah satu cara  yang paling ampuh ialah menyingkirkan orangnya saja daripada kita harus habis waktu untuk membersihkan daki.

 

Belakangan ini, muncul wacana bahwa pemimpin masa depan Indonesia sebaiknya dipimpin oleh orang muda. Yang muda memang ada kekurangannya namun harus diakui,  biasanya yang muda-muda itu tetap lebih banyak kelebihannya dibandingkan dengan yang tua, minimal tidak cepat lupa atau ngawur akan janji-janji yang dilontarkan.

 

Indonesia perlu diberi darah dan ide yang segar. Yang senior monggo jadi pendamping, penasehat atau kritikus saja. Sekarang kan sudah mulai terbukti prestasi menteri-menteri muda yang memimpin kabinet pemerintahan SBY!  Masa Jakarta harus tertinggal dari Guangzhou lagi. Yang benar dong! (ingat gaya bicara Presiden Habibie)