Satu Propinsi (Timor Timur) dan 2 pulau (Sipadan dan Legitan) milik Indonesia telah hilang dari genggaman Ibu Pertiwi. Beberapa waktu yang lalu Pulau Ambalat-pun mulai diganggu.

 

Baru-baru ini Bupati Natuna juga mulai ikut-ikutan menhilangkan 5 pulau di kepulauan Anambas dengan cara menjual pulau-pulau tersebut kepada WNA. Tentu sikap demikian meniru sikap para pemimpin di negeri ini yang asal saja mengobral kekayaan Indonesia. Dan terakhir yang lagi panas-panasnya ialah beberapa warisan budaya Indonesia dari motif batik sampai lagu daerah (Rasa Sayang Sayange) kabarnya juga telah dipatenkan oleh negara tetangga kita, Malaysia. .

 

Hanya negara yang tidak bermartabat plus miskin moral  yang selalu diinjak-injak, distir dan dibodoh-bodohi negara lain. Harap maklum, ini hukum alam.

 

Jika sudah begini, rasa mual mau muntah bila mendengar suara-suara lantang patrotik keluar dari gedung DPR. Di lain pihak, rasa sedih juga terasa, tatkala mendengar suara lantang patriotik diteriakkan oleh rakyat miskin Indonesia seperti tukang becak, anak jalanan dan pemulung. Beda keduanya ialah, satu teriak dari mulut, hanya sebagai formalitas dan satu lagi teriak dari hati.

 

Sampai kapankah Indonesia bangun dari tidur? Apakah mau sampai Indonesia diklaim milik negara lain baru kita bertobat?